matematika gaji dan logika sedekah
sewaktu aku membaca tulisan ini, aku merasa sangat malu karena selama ini aku telah melupakan hal yang benama sedekah. kini aku merasa begitu indah melihat senyum orang memakan sebagian rejeki aku
semoga tulisan ini bermanfaat.
27 Jun 07 10:30 WIB
Oleh A. Muttaqin
Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut
saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar. Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang deprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri.
Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu.
Melainkan dari pria ini.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena
penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti
yang
saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari
mapan.
Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang
dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali
perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar
informasi
dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah
dengan
sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir
tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib “guru” yang
katanya
pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya
dan
Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu
hakikat
nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai
seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki
tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA.
Sering
pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi
berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa
mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari
jumlah
yang diterimanya.
“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada
dimensi
non matematis dan di luar angka-angka logis.”
“Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”
“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit.
Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya
nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia
akan
berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”
“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana
mungkin
dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa
berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar
dari
medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh
ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita
berikan
pada pengemis, berapa sisa uang kita?”
“Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.
“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan
seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung
pada
jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang
seribu rupiah? Dari mana sisanya?
“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah
diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi
cobalah
tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang
seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran
doa’
keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian
kita.
Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu
dicatat
malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan
menjadi
penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang
abadi.
Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.
Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang
hidup
di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat.
Sedekah
menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup,
bukan
orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah,
hakikatnya
sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk
memberi
dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui
pola
hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin
menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk
mencukupi
kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air
susunya,
dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru
perasaanya.
Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu,
Allah
akan menggantinya berlipat-lipat.
“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis
dengan
dimensi sedekah itu?”.
“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi
sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan
gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah,
jangan
lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan
syukur”. Saya semakin tertegun
Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya
habiskan.
Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini
pandangan
saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada.
Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme
kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang
telah
lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui
pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara
lain
yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.
***
Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu
saya
acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya.
Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas
Ajy.
Allah mengingatkan saya kembali:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya)
lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)
Baca Al Quran
Pencerahan…
Subject: Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti artinya?
Why do we read Quraan, even if we can’t understand a single Arabic word????
This is a beautiful story
An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked, “Grandpa! I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?” The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home. Out of breath, he told his
grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, “See Grandpa, it’s useless!” “So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out. “Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You mi ght not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.
” If you feel this email is worth reading, please forward to your contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h) says: “The one who guides to good will be rewarded equally”
————————————————————————————————————————————————————————————-
Terjemahan bebasnya:
Suatu cerita yang indah:
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, ” Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” ” Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.
Kakek berkata, ” Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. ” Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam.
Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”
Jika kamu merasa email ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) :
” Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjarannya”
Ingat_lah
Assalamualaikum Wr. Wb.
Kubur Setiap Hari Menyeru Manusia Sebanyak Lima (5) Kali …
1. Aku rumah yang terpencil,maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
2. Aku rumah yang gelap,maka terangilah aku dengan selalu solat malam.
3. Aku rumah penuh dengan tanah dan debu,bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
4. Aku rumah ular berbisa,maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka banyaklah bacaan
“Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah”, supaya kamu dapat jawapan kepadanya.
Lima Jenis Racun dan Lima Penawarnya …..
1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.
(Kirimkan Untuk Rakan-Rakan Muslim Anda Yang Lain Sebagai Tanda Sahabatnya Sedang Mengingatinya …)
Ada 4 di pandang sebagai ibu “, yaitu :
1. Ibu dari segala OBAT adalah SEDIKIT MAKAN.
2. Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERBICARA.
3. Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BUAT DOSA.
4. Ibu dari segala CITA CITA adalah SABAR.
Berpesan-pesanlah kepada kebenaran dan kesabaran.
Beberapa kata renungan dari Al-Qur’an :
Orang Yang Tidak Melakukan Sholat:
Subuh : Dijauhkan cahaya muka yang bersinar
Zuhur : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
Asar : Dijauhkan dari kesihatan/kekuatan
Maghrib : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya.
Isya : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya
Wassalam.