matematika gaji dan logika sedekah

September 22, 2007 at 8:07 am (cerita)

sewaktu aku membaca tulisan ini, aku merasa sangat malu karena selama ini aku telah melupakan hal yang benama sedekah. kini aku merasa begitu indah melihat senyum orang memakan sebagian rejeki aku

semoga tulisan ini bermanfaat.

27 Jun 07 10:30 WIB

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut

saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar. Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang deprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri.

Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu.

Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena

penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti

yang

saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari

mapan.

Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang

dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali

perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar

informasi

dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah

dengan

sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir

tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib “guru” yang

katanya

pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya

dan

Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu

hakikat

nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai

seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki

tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA.

Sering

pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi

berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa

mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari

jumlah

yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada

dimensi

non matematis dan di luar angka-angka logis.”

“Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”

“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit.

Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya

nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia

akan

berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana

mungkin

dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa

berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar

dari

medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh

ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita

berikan

pada pengemis, berapa sisa uang kita?”

“Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan

seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung

pada

jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang

seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah

diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi

cobalah

tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang

seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran

doa’

keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian

kita.

Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu

dicatat

malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan

menjadi

penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang

abadi.

Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.

Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang

hidup

di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat.

Sedekah

menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup,

bukan

orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah,

hakikatnya

sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk

memberi

dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui

pola

hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin

menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk

mencukupi

kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air

susunya,

dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru

perasaanya.

Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu,

Allah

akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis

dengan

dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi

sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan

gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah,

jangan

lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan

syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya

habiskan.

Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini

pandangan

saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada.

Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme

kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang

telah

lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui

pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara

lain

yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu

saya

acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya.

Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas

Ajy.

Allah mengingatkan saya kembali:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan

hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang

menumbuhkan

tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan

(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas

(karunia-Nya)

lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Baca Al Quran

September 21, 2007 at 9:13 am (cerita)

Pencerahan…
Subject: Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti artinya?
Why do we read Quraan, even if we can’t understand a single Arabic word????

This is a beautiful story
An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked, “Grandpa! I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?” The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home. Out of breath, he told his
grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, “See Grandpa, it’s useless!” “So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out. “Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You mi ght not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.
” If you feel this email is worth reading, please forward to your contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h) says: “The one who guides to good will be rewarded equally”
————————————————————————————————————————————————————————————-
 
Terjemahan bebasnya:
Suatu cerita yang indah:
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, ” Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya,  biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum  ia sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” ” Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.
Kakek berkata, ” Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari  keranjang batubara yang tua kotor dan  kini bersih, luar dalam. ” Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam.
Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”
Jika kamu merasa email ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) :
” Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjarannya”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar